Friday, March 26, 2010

Universal Kebatinan

Kebatinan or spiritual practices is something that is widely believed and practiced not only among Malay or not only in Silat. It is also practiced among Chinese in China, Indian in India, African in Africa and so many other races or people from other countries. In truth kebatinan or spiritual practices plays a very big role in shaping the whole human race regardless their races, religion or country.

Surprisingly if we open our eyes wide enough, we can see clearly it is practiced even in a highly developed country with such high technology and rapid development in science, civilization and economy. What most important here is understanding that as Muslim there are rules and guidance that must be follow to purified our faith, understanding and practice.

Basically that is completely different to non Muslim. Non Muslim doesn’t necessarily have to follow the same rules in learning or practicing spiritual knowledge or kebatinan. Even though it is not the same but all human want the same thing which is peace and harmony, both physically and spiritually.

Physical and spiritual self and other that is in harmony with all creations whilst making sure that no one is being harm by anyone physically and spiritually. Generally that mean the importance of choosing the right spiritual or kebatinan knowledge with good or beneficial result is essentials to human nature.

In Islam all people of different belief is allowed to practice their belief or their kebatinan of any form provided that they will not interfere with Islam or Muslim and will not harm others among Muslim or non Muslim. It is undeniable that there is no belief in human history will tolerate a practice that will harm others.

Kebatinan or spiritual practices or effort of cultivating unseen power is something that attracted all humans regardless their religion, races and country. All belief or religion will surely gravitate towards this kind of mystical knowledge or ability, which is 101% of all belief or religion.

It is just because human naturally fond to something special or extraordinary. Many kinds of recitations, special water, exorcism, special ceremonies or practice of blessing and all sorts of knowledge, practice and things that are related to spiritual or kebatinan are very much practiced in 101% of belief system or religion.

Saturday, March 20, 2010

Api

Jika ditanya tentang api yang telah Allah (SWT) jadikan atas dunia ini maka sememangnya ada disebut di dalam Surah Yasin ayat 80:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ
"Tuhan yang telah menjadikan api (boleh didapati) dari pohon-pohon yang hijau basah untuk kegunaan kamu, maka kamu pun selalu menyalakan api dari pohon-pohon itu."

Jelas nampaknya dalil tersebut yang menunjukkan antara salah satu dari punca kejadian api yang dianugerahkan Allah (SWT) sebagai untuk diambil manfaat oleh hambaNya. Nabi Muhammad (SAW) juga ada menyentuh di dalam hadis beliau bahawa semua api yang dijadikan untuk manfaat manusia di dunia ini merupakan cuma satu juzuk berbanding dari 70 juzuk api neraka.

Di dalam Surah Al-Waqi'ah ayat 71 Allah (SWT) berfirman:
أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ
“Akhirnya, tidakkah kamu melihat api yang kamu nyalakan (dengan cara digesek)?”
Maka nampaklah kita bahawa apabila bergesek sesuatu yang boleh menghasilkan api maka terjadilah api semata-mata dengan izin dan rahmat Allah (SWT).

Kejadian api itu termaktub padanya dalil nas dan akal atau dalil naqli dan aqli. Maka tiadalah yang meragukan disini melainkan Allah (SWT) menzahirkan nikmat kurniaannya kepada sekalian makhlukNya seperti yang difirmankanNya dalam ayat 73 Surah Al-Waqi'ah:
نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ
“Kami jadikan api itu sebagai peringatan (bagi orang-orang yang lalaikan kebenaran hari akhirat) dan sebagai benda yang memberi kesenangan kepada orang-orang musafir.”

Itulah yang sepatutnya kita nampak apabila kita melihat nyalaan api. Agar tidak kita lalai dari kebenaran sebuah kehidupan sebenar yang kekal yang akan dibentangkan segala pembalasan. Api di dunia ini bukanlah sekadar kesenangan untuk manusia sahaja malahan untuk semua makhlukNya. Itulah Kebesaran, Kekuasaan dan Kemurahan Allah (SWT) kepada semua ciptaanNya.

Jangan pula kita menempah api yang lain pula. Amaran Allah (SWT) tentangnya terdapat banyak di dalam Al-Quran antaranya:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan bencana untuk memesongkan orang-orang lelaki yang beriman dan orang-orang perempuan yang beriman, kemudian mereka tidak bertaubat, maka mereka akan beroleh azab neraka Jahannam (kerana perbuatan buruk itu), dan mereka akan beroleh lagi azab api yang kuat membakar (kerana mereka tidak bertaubat).” (Surah Al-Buruj: 10)

Api inilah yang kita tidak mahu. Apabila kita hanya gunakan akal dan nafsu dalam melihat kehidupan maka api inilah yang bakal dihadapi kelak, nauzubillahiminzalik. Dalam setiap urusan hidup sebagai seorang Islam wajiblah kita sentiasa jelas dalam hal Fiqh atau Syari'atnya dan selepas itu barulah kita pandu akal dengan ilmu Islam yang jelas serta bimbingan orang pilihan Allah (SWT) para awliyaNya dan 'ulama' sebenar.

Janganlah kita tutup minda, hati dan diri kita dari ilmu dan bimbingan Islam sebenar. Diri kita juga yang akan rugi dan dimurkai Allah (SWT) serta mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat:
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan petunjuk (ugama Allah), dan (membeli) azab seksa neraka dengan meninggalkan keampunan Tuhan. Maka sungguh ajaib kesanggupan mereka menanggung seksa api neraka itu.” (Surah Al-Baqarah: 175)

Sanggupkah kita menggantikan petunjuk Islam dengan kesesatan yang cuma disandar akal dan nafsu? Jika kita sanggup menanggung azab seksa Allah (SWT) maka buatlah sekehendaknya. Allah (SWT) berfirman dalam Surah An-Nisaa’ ayat 14:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan sesiapa yang derhaka kepada Allah dan RasulNya, dan melampaui batas-batas Syari’atNya, akan dimasukkan oleh Allah ke dalam api neraka, kekallah dia di dalamnya, dan baginya azab seksa yang amat menghina.”

Janganlah kita biarkan akal kita dikuasai nafsu. Kekanglah jasad, minda, laku, akal dan segala-galanya agar ianya tidak melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah (SWT). Bertaqwalah kita padaNya setiap detik dan saat. Pandanglah segalanya dengan ilmu dan sifat kehambaan sebenar pada Allah (SWT). Ilmu Fiqh atau Feqah atau Fikah atau Syari'at itulah ilmu kehambaan.

Dari situlah punca, asas dan tunggak segala perkara kerana biar apa sekali pun tetaplah kita ingat bahawa Allah (SWT) menjadikan kita untuk menjadi hambaNya yang sebenar-benar hamba seperti yang dimaktubkan dari firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.” (Surah Az-Zaariyat: 56)

Monday, March 15, 2010

Pantun Tari Hidup

Tari Silat Suatu Cerita
Hidup Dan Mati Bukti Taruhan
Perinya Indah Namun Gempita
Tujuan Menegak Kebenaran

Hidup Dan Mati Bukti Taruhan
Ruh Dan Jasad Tumpuannya Satu
Tujuan Menegak Kebenaran
Itu Resmi Pendekar Melayu

Ruh Dan Jasad Tumpuannya Satu
Pada Yang Satu Ilahi Robbi
Itu Resmi Pendekar Melayu
Sanad Berguru Mursyid Murobbi

Pada Yang Satu Ilahi Robbi
Seluruh Jiwa Sudah Tertumpu
Sanad Berguru Mursyid Murobbi
Adat Dan Adab Menjadi Laku

Seluruh Jiwa Sudah Tertumpu
Ilahi Robbi Anta Maqsudi
Adat Dan Adab Menjadi Laku
Allahumma Ridhoka Matlubi

Wednesday, March 10, 2010

Physical, Mental & Spiritual

لاَ ﺇِلَهَ ﺇِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ ﺇِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Silat is an art of control. Not to control others but to control oneself physically and mentally. When one master the art of controlling oneself, the need to protect oneself when facing enemy will seem like one is controlling the fight and the enemy. Actually one is controlling oneself so perfect so that one's body will not be harm in any way the threat that been delivered.

It is not a skill of controlling others but it is an interpretation of self control. Learning and mastering Silat is actually to realize and accept one’s weaknesses and embrace it so that it can be use to the advantage. We learn how to make specific move to protect our weak part of the body. We are forced to master weaponry skill to face against enemy with more strength or with weapon.

If we are so strong and mighty, we don't have to put so much effort in learning special skill to protect ourselves. Just let the enemy come and attack that can do no harm to our strong and impenetrable flesh. So in truth we learn any self defense techniques or Silat out of our obvious weaknesses.

In Islam, learning self defense is among the practice of Nabi Muhammad (saw) and his companion (ra.hum). It is essential for a Muslim to be able to protect oneself, family, one's belonging and country from any threat from any kind of enemies, seen or unseen. So it is among syariat to put enough effort in making sure the safety of whatever necessary around us. As Muslim, let this be the only physical intention in learning Silat. This will be the very basic effort in making sure our intention will not be cloud by bad inclination.

As Muslim, we learn Silat not to perfect our martial skill but to complete the practice of our syariat, thus elevate ourselves as Muslim. Previously I use the word mentally instead of spiritually because there is only one element that can be use to control the spiritual which is Islam teaching and practice.

Among the most important aspect of Islam that must be acquired by all Muslim is Taqwa. Mean fear only to Allah (swt) by fulfilling all His commands with hope towards His (swt) rahmat or blessing. Taqwa is important so that we can ensure our physical and spiritual action is right and on the right track. Taqwa will prevent us from making physical and spiritual mistake or sin because from taqwa one will fully obey Allah (swt).

Taqwa will cultivate a true sense of serenity and tranquility. One will have no fear towards creations. No fear with proper action and compassion, action that base on the true teaching and practice of Islam. One will have hope only to Allah (swt), truly and fully reliance to Allah (swt) which is tawakkal.

Tawakkal must come with proper physical and spiritual action that base on Islam teaching which is Allah (swt) command that is translated into the Sunnah of Nabi Muhammad (saw). What most important here is finding, learning, understanding and practicing the true knowledge of Islam which come from 2 very obvious resources, Al-Quran and Sunnah (words and actions of The Prophet). Those 2 resources can only be teach and interpreted by true Islamic scholars, true pious ‘ulama'.

As Muslim, we must realize that one can never learn and understand Islam through self defense or Silat. Anything that is good can be use as a tool of da'wah but can never be use to learn or understand Islam. Islam must be learn and understand using the way of the Sunnah. True ‘ulama are authorized in Islam as the only inheritor of The Prophet Muhammad (saw) way.

In truth learning Silat is actually an act of admitting our weaknesses, an effort in controlling ourselves physically and mentally and it is a way to train our physical body to obey tawakkal a'lAllah, fully reliance to Allah (swt). It is among the way of the syariat, the way of the Sunnah to learn and master the right self defense thus utilizing it with proper manner.

Silat can never be the goal in a Muslim's life. It is just among many knowledge tools that can be utilize for a good use. Don't let ourselves being obsessed with Silat but let ourselves completely be submerge into Allah (swt) command and Prophet Muhammad (saw) way which is the true teaching and practice of Islam.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Monday, March 8, 2010

Nasi Ayam Hainan

اللهم بركلنا فيما رزقتنا وقينا عذاب نار
Nasi ayam hainan, itu kata anak murid saya tentang hidangan sebuah restoran berdekatan dengan rumah kami. Dengan rasa berselera (tengah lapar sangat) hendak cubalah nasi ayam hainan yang katanya original. Mahal sikit katanya tapi tak apa asalkan sedap dan asli. RM6 untuk seorang kira berpatutan sebab katanya restoran tu guna beras “basmati”.

Peliklah juga sebab dia guna beras macam itu. Kenapa pula dia guna beras “basmati” untuk masak nasi ayam hainan? Biasanya beras tu guna untuk nasi beriyani atau yang semacam itu. Tak apalah, cuba jugalah. Lagi pun dah boring asyik masak sendiri. Orang datang ke rumah pun asyik minta macam-macam menu, dari gulai lemak cili api sampailah ke pizza, mi kari hailam, steak, pasta, payeya, asam pedas dan macam-macam.

Maka kami pun belilah RM30 untuk 5 orang. Masa masuk ke restoran tu tak ada pun bau nasi ayam hainan atau bau yang bercirikan hainan. Hmmmmm…… pelik… tapi tak apa, mungkin baunya dah hilang kena sedut dek orang ramai yang datang kat sini. Angin yang berlalu pun habis di”ngap”nya bau yang menyelerakan tu agaknya.

Sampai rumah, dengan penuh berselera (dah kebulur dah) kami buka semua bungkusan dan terus belasah. Alamak! Bukan hainan ori rupanya….. sodih…. Siap jumpa rempah sup punjut lagi dalam nasi dia. Nasi ayam hainan ada rempah sup punjut ka? Pastu supnya ada cili api dan dibubuhnya rempah sup. Ada taugeh sekali. Sup pedas dan rasanya memang rasa sup melayu atau sup soto yang sedap, bukan hainan.

Kicapnya masih bolehlah dilabelkan hainan. Tapi sos atau cili halianya bolehlah dinamakan sos cecah cili halia, bukan sos hainan. Hentam ajelah makan sampai habis, kami sekeluarga dah lapar kebulur dah ni. Sayup-sayup adalah rasa nasi ayam hainan pada nasi special berempah sup punjut tadi. Pastu adalah naik turun rasa hainan pada sos kicap ayam tu tadi.

Macam tak bersyukur aje! Itulah rezeki yang Allah Ta’ala bagi maka makan dan bersyukurlah. Halal dan suci inshaAllah. Bukan tak bersyukur tapi terkilan. Memang mudah aje nak buat nasi ayam hainan ni. Ramuannya mudah dan ringkas cuma kaedahnya aje yang nak kena jaga. Tapi sebenarnya kaedahnya juga ringkas dan mudah.

Saya belajar dengan mak saya dan mak saya belajar dengan seorang Cina hainan dari negara Cina yang bekerja di sebuah restoran nasi ayam hainan bernama Lucky Bar di Jalan Tuanku Abdul Rahman. Tukang masak restoran ni kawan baik ibu dan ayah saya. Tak tahulah masih ada lagi ke tidak restoran ni. Kalau ada pun bukan boleh masuk makan.

Itulah silsilah ilmu belajar masak nasi ayam saya. Posting berikutnya nanti saya turunkan resepinya inshaAllah. Nasi ayam hainan ni kadang-kadang tak kena dengan lidah orang yang dah keras dek resepi Malaysia. Katanya rasanya pelik. Tambahan pula ayamnya cuma akan direbus sahaja. Sesiapa malas nak masak pergilah makan kat luar ya. Jika nak datang rumah saya makan pun boleh aje. Bolehlah terus belajar masak sekali, terbuka kepada semua muslimin dan muslimat.

Dalam dunia perniagaan ini kita wajib berhati-hati agar tidak melanggar ketetapan hukum Allah (swt) dalam hal mu'amalah. Segala perintah Allah Ta'ala wajib kita applikasikan dalam semua aspek kehidupan. Setiap inci kehidupan telah ada garis panduan yang jelas dalam menjalaninya dengan penuh kehambaan, dari cara makan minum, berkenderaan, buang air, bercakap, malah kesemuanya. Begitu juga dalam kita berniaga, tak kiralah apa jua perniagaan yang kita ceburi.

Semoga setiap apa yang kita lakukan menjadi sebab untuk kita memperolehi rahmat iman dan menjadi suatu usaha merealisasikan kehambaan dalam setiap gerak zahir dan batin. Dapatkanlah ilmu dan bimbingan dari ahli yang sebenar dalam sesuatu perkara. Lebih-lebih lagi dalam urusan kehidupan sebagai seorang Islam, sebagai seorang hamba Allah Rabbul Jalil.
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا من المسلمين

Tuesday, March 2, 2010

Silaturrahim (Jalinan Kasih & Sayang)

Persaudaraan didalam Islam bukanlah sekadar melalui pertalian darah atau hubungan kekeluargaan. Keimanan merupakan suatu faktor yang paling penting dalam semua perkara didalam Islam. Semua orang yang beriman adalah bersaudara. Persaudaraan sebegini banyak digambarkan dalam Quran dan Hadis. Kisah para sahabat (ra) dizaman Rasulullah (saw) merupakan antara bukti jelas betapa tali persaudaraan dan hubungan yang baik itu adalah terlalu penting.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Perkataan “ikhwah” atau bersaudara di dalam ayat ini menggambarkan hubungan yang seperti mempunyai pertalian darah dan hubungan kekeluargaan yang amat erat malah lebih erat dari itu. Begitulah hebatnya persaudaraan dikalangan orang-orang yang beriman. Ikatan ini sepatutnya lebih utuh dari pertalian darah (thicker than blood). Memelihara hubungan persaudaraan sesama Islam merupakan terjemahan dari sifat keimanan.

Sekiranya timbul perbalahan maka Allah Ta’ala memerintahkan agar diatasinya dan bertaut kembali hubungan silaturrahim yakni ikatan kasih sayang. Ayat ini juga memerintahkan kita bertaqwa yakni memelihara diri agar sentiasa melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Itulah dia formula utama dalam menjaga persaudaraan dan kasih sayang. Taat dan takut hanya kepada Allah (swt).

Mereka yang bertaqwa sentiasa beroleh rahmat dariNya. Mereka yang mendamaikan perbalahan akan sentiasa beroleh rahmat dariNya. Begitu juga mereka yang sentiasa menjaga hubungan kasih sayang akan sentiasa mendapat rahmatNya. Hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang mampu untuk benar-benar menjaga dan memelihara hubungan kasih sayang sesama Islam.

Konsep berkasih sayang (ruhama’) disebut di dalam Surah Al-Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
“Nabi Muhammad (s.a.w) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi Islam), dan bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama sendiri (umat Islam). Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud dengan mengharapkan limpah kurnia dari Allah serta mereka mengharapkan keredaanNya.”

Ayat ini jelas menerangkan bahawa mereka yang menjadi pengikut Nabi Muhammad (saw) atau mereka yang Islam dan beriman akan bersifat tegas terhadap golongan bukan Islam yang memusuhi Islam tetapi sentiasa sayang menyayangi antara sesama sendiri. Kekuatan kasih sayang dan kekuatan orang Islam itu hanya dapat diwujudkan dengan beribadah serta taat dan taqwa kepada Allah.

Didalam memastikan kekukuhan sebuah negara, perpaduan amatlah penting didalam Islam. Kerjasama erat sesama rakyat tanpa mengira agama dan bangsa menjadi asasnya. Islam membolehkan bersifat tegas terhadap golongan kafir yang benar-benar memusuhi Islam tetapi hendaklah memelihara hubungan dengan golongan bukan Islam yang mempunyai hubungan baik dan tidak memusuhi Islam.

Nabi (saw) sentiasa menunjukkan sifat yang amat mulia dan baik terhadap golongan kafir yang tidak memusuhi Islam. Baginda sentiasa memenuhi jemputan dan hajat yang datangnya dari golongan ini. Perpaduan begini hanya dapat diwujudkan setelah persaudaraan dan kasih sayang sesama Islam itu terlaksana. Apabila wujudnya ikatan kasih sayang berdasarkan keimanan dikalangan umat Islam maka barulah perpaduan sebenar dapat direalisasikan.

Perbezaan pendapat merupakan suatu perkara lumrah dikalangan semua manusia. Keimanan dan ketaqwaan menjadi titik persamaan yang akan sentiasa memelihara hubungan kasih sayang orang-orang beriman. Dalam Islam terdapat adab atau tatacara yang jelas dengan Allah Ta’ala, dengan diri sendiri dan antara sesama manusia serta dengan segala makhluk yang lain. Islam adalah suatu kaedah menjalani kehidupan dengan penuh adab.

Adab dan tertib ini tiada tujuan yang lain selain dari menjaga kesejahteraan semua makhluk. Aturan Allah (swt) adalah bagi tujuan kepentingan diri kita sendiri. Dia yang Maha Pencipta yang telah menciptakan segala-galanya adalah yang Maha Mengetahui dan paling arif tentang segala perkara termasuklah tentang semua makhluk ciptaanNya. Kerana itu dalam menangani masalah manusia tiada cara lain yang paling tepat melainkan apa yang telah diperintahkanNya, tiada lagi kaedah lain yang betul selain dari itu.

Tiada had bangsa, warna kulit, bahasa, rupa dan sebagainya dalam persaudaraan Islam, yang wujud cuma keimanan. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan kekukuhan dan keindahan hubungan kasih sayang yang berdasarkan dari keimanan:
“Dari Abu Musa (ra), Rasulullah (saw) bersabda: “Orang mukmin dengan orang mukmin itu adalah seperti sebuah bangunan, menguatkan antara sebahagiannya dengan sebahagian yang lain.” Kemudian baginda menyelang kuat di antara jari-jari baginda."

Islam melabelkan orang yang sukakan perselisihan faham dan perpecahan sesama Islam sebagai golongan yang melampaui batas aturan Allah (swt). Sikap melampaui batas sehingga melanggar aturan Allah Ta’ala merupakan dosa yang besar dan amat dibenci dalam Islam. Nabi (saw) menyatakan didalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad:
“Sesungguhnya kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit.” (Imam Ahmad).

Begitu erat dan hebat ikatan kasih sayang antara orang yang beriman. Dalam sebuah lagi hadis yang lain dari riwayat Imam Muslim juga menyebut kehebatan ikatan kasih sayang dikalangan orang-orang Islam:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit, maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap berjaga dan demam.” (Imam Muslim).

Islam memerintahkan agar menjaga hubungan kasih sayang serta mempereratkannya dengan sentiasa berusaha untuk perdamaian bagi mengatasi perbalahan. Islam juga melarang keras sikap menghina atau mempermain-mainkan sesama-orang-orang beriman. Bersangka buruk adalah merupakan salah satu dari pencetus pertikaian. Sifat ini akan membawa kepada satu lagi sikap yang dilarang iaitu suka mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Perangai ini akan hanya mencetuskan sifat semulajadi iblis dalam diri iaitu perasaan merasakan diri lebih baik dari yang lain.

Perselisihan faham dan pergaduhan merupakan usaha dan rancangan iblis serta kuncu-kuncunya. Apabila seseorang terjerumus kepada perkara ini maka telah tewas dan tunduk kepada iblis dan sekutunya yang dilaknati Allah (swt). Berlindunglah kita dari yang sedemikian itu. Iblis dan pengikutnya sentiasa berusaha merosakkan kasih sayang antara kita dan menyemai benih kebencian dan perpecahan dikalangan orang-orang beriman.

Memperbaiki hubungan kasih sayang hendaklah dilakukan dengan giat dan bersungguh-sungguh dan sanggup mengorbankan segala apa yang dibolehkan oleh Islam. Islam tersebar dengan kasih sayang. Kerana itulah peristiwa hijrah dan persaudaraan di Madinah menjadi suatu perkara yang amat besar dan indah dalam sejarah dakwah kekasih Allah (swt) ikutan kita Nabi Muhammad (saw).


وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang (Ansar) yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka, mengasihi orang-orang yang berhijrah ke negeri mereka, dan tidak ada pula dalam hati mereka perasaan berhajatkan apa yang telah diberi kepada orang-orang yang berhijrah itu; dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.” (Al-Hasyr: 9)

Ayat ini jelas menunjukkan sikap yang wajib ada pada diri setiap orang yang beriman. Islam itu merupakan cara menjalani kehidupan dengan penuh kasih sayang. Islam itu terjemhan bagi kasih sayang. Kasih sayang itu adalah realisasi dari keimanan yakni percaya dan yakin dengan perintah Allah (swt). Ikatan kasih sayang sesama Islam adalah ikatan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sendiri.

Maka wajiblah kita memeliharanya dengan cara yang telah diperintahkan olehNya. Nabi Muhammad (saw) telah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari:
“Tidak beriman seseorang kamu hingga dia mengasihi saudaranya seperti mana dia mengasihi dirinya sendiri” (Imam Bukhari)
Itulah dia antara penjelasan yang amat jelas mengenai iman. Satukanlah hati agar kasih sayang dapat diwujudkan. Kesatuan hati hanya dapat dibina dengan kehambaan kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah diajar oleh Nabi Muhammad (saw).